Musuh Sejati Manusia yang Sering Kita Salah Duga
Musuh Terbesar Manusia: Dari Nafsu, Setan, hingga Ego Religius
Kata musuh sering kita pahami secara sederhana. Ia dibayangkan
sebagai sosok di luar diri: orang lain, keadaan, sistem, atau zaman. Saat hidup
terasa berat, kita pun sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Namun Islam sejak awal justru mengarahkan pandangan ke tempat yang
jarang disentuh: ke dalam diri manusia sendiri. Bukan untuk menumbuhkan
rasa bersalah, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran.
Sebab tidak semua musuh datang dengan wajah yang jelas. Sebagian hadir
sangat dekat, bahkan menyatu dengan diri kita.
Musuh yang Paling Dekat: Diri Sendiri
Al-Qur’an menyebut adanya satu kekuatan dalam diri manusia yang paling
menentukan arah hidupnya, yaitu: Hawa Nafsu. Nafsu sering disempitkan
maknanya menjadi sekadar dorongan biologis. Padahal dalam kenyataannya, ia jauh
lebih luas dan lebih halus. Nafsu bisa menyamar sebagai:
- logika yang tampak
masuk akal,
- pembelaan diri yang
terdengar wajar,
- bahkan niat baik
yang terasa tulus.
Banyak kesalahan besar tidak lahir dari ketidaktahuan, melainkan dari pembenaran
batin.
Manusia jarang berkata, “Aku salah.” Yang lebih sering muncul
adalah, “Aku punya alasan.” Di situlah nafsu bekerja paling
efektif—bukan dengan paksaan, tetapi dengan persuasi.
Mengapa Setan Tidak Sebesar yang Kita Kira
Dalam ajaran Islam, Setan memang disebut sebagai musuh manusia. Namun
Al-Qur’an juga sangat jujur dalam menjelaskan batas kekuasaannya.
Setan tidak memaksa manusia berbuat dosa. Ia tidak menyeret, tidak
menggiring secara langsung. Ia hanya membisikkan. Yang menentukan tetaplah manusia sendiri. Karena itu,
dalam banyak kasus, setan bukan aktor utama, melainkan katalis—penguat
dari dorongan yang sudah ada. Jika nafsu tidak membuka pintu, bisikan setan
kehilangan daya.
Kesadaran, kejujuran pada diri, dan keberanian melawan dorongan batin adalah
benteng yang tidak bisa ditembus oleh setan.
Ego Religius: Musuh yang Paling Halus
Ada satu musuh yang jarang dibicarakan karena tampilannya tampak
“saleh”: ego religius. Ia tidak muncul dalam bentuk maksiat yang jelas. Ia
hadir justru setelah seseorang rajin beribadah, aktif berdakwah, atau merasa
berada di jalan yang benar.
Ciri-cirinya sering terasa normal:
- merasa pendapat
sendiri paling lurus,
- sulit menerima
nasihat,
- menilai orang lain
dengan ukuran amal diri.
Pada tahap ini, seseorang bisa rajin beribadah namun kehilangan
kerendahan hati.
Banyak orang selamat dari dosa besar, tetapi jatuh karena merasa
sudah cukup baik. Inilah musuh yang menjatuhkan Iblis, dan inilah pula
musuh yang diam-diam merusak amal manusia.
Urutan yang Mengubah Cara Pandang
Islam tidak menjanjikan hidup tanpa musuh. Namun Islam mengajarkan urutan
menghadapi musuh:
- Menundukkan nafsu
- Membuat setan
kehilangan peran
- Meredam ego,
termasuk ego religius
- Baru menghadapi
musuh eksternal dengan jernih
Ketika urutan ini terbalik, manusia sibuk berdebat di luar, sementara
konflik di dalam dirinya sendiri tak pernah selesai.
Penutup: Kemenangan yang Sunyi
Perang terbesar dalam hidup bukanlah yang paling bising, melainkan yang
paling sunyi. Ia terjadi di dalam niat, di dalam pikiran, di dalam
alasan-alasan yang kita bangun untuk membenarkan diri sendiri.
Dan sering kali, kemenangan paling hakiki bukan saat kita mengalahkan
orang lain, melainkan saat kita jujur mengakui kelemahan diri dan tetap
berjalan menuju Allah dengan rendah hati. Karena dalam Islam, mengalahkan diri
sendiri adalah bentuk kemenangan yang paling tinggi nilainya.
