Doa Istighosah NU Lengkap: Teks Arab, Latin, dan Terjemahannya
Doa Istighosah NU: Bacaan, Makna, dan Keutamaannya dalam Kehidupan Muslim
Pendahuluan
Dalam kehidupan, manusia tidak pernah
lepas dari berbagai ujian, kesulitan, dan persoalan. Ada kalanya usaha telah
dilakukan dengan sungguh-sungguh, tetapi jalan keluar belum juga terlihat.
Dalam keadaan seperti ini, seorang Muslim diajarkan untuk tidak berputus asa,
melainkan terus berikhtiar, berdoa, dan berserah diri kepada Allah Swt.
Salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang
dikenal luas di kalangan umat Islam Indonesia adalah istighosah, yaitu memohon
pertolongan kepada Allah Swt. melalui doa dan zikir. Di lingkungan Nahdlatul
Ulama (NU), istighosah sering dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid,
musala, pesantren, majelis taklim, maupun dalam berbagai kegiatan keagamaan dan
kemasyarakatan.
Dalam pelaksanaannya, istighosah NU
dapat mencakup pembacaan istigfar, selawat, kalimat tauhid, doa-doa yang
bersumber dari Al-Qur'an dan hadis, serta rangkaian munajat yang telah dikenal
dalam tradisi keagamaan masyarakat. Susunan bacaannya dapat berbeda menurut
panduan atau amaliah yang digunakan oleh masing-masing penyelenggara.
Istighosah bukan sekadar rangkaian
bacaan yang dilafalkan bersama. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang
kerendahan hati di hadapan Allah, kesadaran akan keterbatasan manusia, harapan
terhadap rahmat-Nya, dan pentingnya menjaga persaudaraan. Melalui doa bersama,
umat Islam diajak untuk memperkuat hubungan dengan Allah Swt. sekaligus
menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Artikel ini membahas doa istighosah NU,
makna umum bacaannya, serta nilai-nilai spiritual yang dapat dipetik dari
pelaksanaannya. Dengan memahami maknanya, diharapkan kita tidak hanya membaca
doa dengan lisan, tetapi juga menghayati kandungannya dalam kehidupan
sehari-hari.
➡️ Melihat Susunan Istighosah Jam‘iyyah
Nahdlatul Ulama (NU) – Versi Arab Saja
ترتيب الاستغاثة لجمعية نهضة العلماء
Tarṭīb al-Istighātsah
li-Jam‘iyyati Nahḍatil ‘Ulamā’
Susunan Istighosah
Jam‘iyyah Nahdlatul Ulama (NU)
Teks Arab, cara baca, dan
terjemahan
1. الْفَاتِحَةُ — (3 kali)
2. اسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيمَ — (7 kali)
Astaghfirullāhal-‘Aẓīm.
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung.”
3. لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ — (7 kali)
Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-‘Aliyyil-‘Aẓīm.
“Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan
pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”
4. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ — (7 kali)
Allāhumma ṣalli ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā
sayyidinā Muḥammad.
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami
Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad.”
5. يَا اللهُ يَا قَدِيمُ — (11 kali)
Yā Allāhu, yā Qadīm.
“Wahai Allah, wahai Zat Yang Maha Terdahulu, yang
tidak memiliki permulaan.”
6. يَا سَمِيعُ يَا بَصِيرُ — (11 kali)
Yā Samī‘u, yā Baṣīr.
“Wahai Zat Yang Maha Mendengar, wahai Zat Yang Maha
Melihat.”
7. يَا مُبْدِئُ يَا خَالِقُ — (11 kali)
Yā Mubdi’u, yā Khāliq.
“Wahai Zat Yang Memulai penciptaan, wahai Sang Maha
Pencipta.”
8. يَا حَفِيظُ يَا نَصِيرُ يَا وَكِيلُ يَا اللهُ — (11 kali)
Yā Ḥafīẓu, yā Naṣīru, yā Wakīlu, yā Allāh.
“Wahai Zat Yang Maha Memelihara, wahai Maha Penolong,
wahai Zat Yang Maha Mengurus segala urusan, wahai Allah.”
9. يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ — (11 kali)
Yā Ḥayyu, yā Qayyūmu, biraḥmatika astaghīts.
“Wahai Zat Yang Mahahidup, wahai Zat Yang Maha Berdiri
Sendiri dan Mengurus seluruh makhluk, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.”
10. يَا لَطِيفُ — (41 kali)
Yā Laṭīf.
“Wahai Zat Yang Maha Lembut dan Maha Halus kasih
sayang-Nya.”
11. أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا — (11 kali)
Astaghfirullāhal-‘Aẓīm, innahū kāna ghaffārā.
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung.
Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.”
12. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيلَتِي أَدْرِكْنِي يَا رَسُولَ اللهِ — (11 kali)
Allāhumma ṣalli ‘alā sayyidinā Muḥammad, qad ḍāqat ḥīlatī,
adriknī yā Rasūlallāh.
“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada junjungan kami
Nabi Muhammad. Sungguh, telah sempit upayaku; mohonlah pertolongan untukku,
wahai Rasulullah.”
13. للَّهُمَّ صَلِّ
صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي
تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ، وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَتُقْضَى بِهِ
الْحَوَائِجُ، وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ، وَحُسْنُ الْخَوَاتِيمِ،
وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِي
كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُومٍ لَكَ
(1 kali)
Allāhumma ṣalli ṣalātan kāmilatan wa sallim salāman
tāmmān ‘alā sayyidinā Muḥammadinilladzī tanḥallu bihil-‘uqadu, wa tanfariju
bihil-kurabu, wa tuqḍā bihil-ḥawā’iju, wa tunālu bihir-raghā’ibu wa ḥusnul-khawātīm,
wa yustasqal-ghamāmu biwajhihil-karīm, wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi fī kulli lamḥatin
wa nafasin bi‘adadi kulli ma‘lūmin lak.
“Ya Allah, limpahkanlah selawat yang sempurna dan
salam yang paripurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang melalui beliau
ikatan-ikatan menjadi terurai, kesusahan-kesusahan menjadi tersingkap,
kebutuhan-kebutuhan terpenuhi, harapan-harapan tercapai, dan akhir kehidupan
yang baik diperoleh. Melalui wajah beliau yang mulia, hujan dimohonkan.
Limpahkan pula selawat dan salam kepada keluarga dan para sahabat beliau pada
setiap kedipan mata dan setiap embusan napas, sebanyak segala sesuatu yang
Engkau ketahui.”
14. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنَجِّينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَهْوَالِ
وَالْآفَاتِ، وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا
مِنْ جَمِيعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ،
وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي
الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ
(1 kali)
Allāhumma ṣalli ‘alā sayyidinā Muḥammadin ṣalātan
tunajjīnā bihā min jamī‘il-ahwāli wal-āfāt, wa taqḍī lanā bihā jamī‘al-ḥājāt,
wa tuṭahhirunā bihā min jamī‘is-sayyi’āt, wa tarfa‘unā bihā ‘indaka
a‘lad-darajāt, wa tuballighunā bihā aqṣal-ghāyāti min jamī‘il-khayrāti fil-ḥayāti
wa ba‘dal-mamāt.
“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada junjungan kami
Nabi Muhammad, dengan selawat yang dengannya Engkau menyelamatkan kami dari
segala ketakutan dan bencana; memenuhi segala kebutuhan kami; menyucikan kami
dari segala keburukan; mengangkat derajat kami di sisi-Mu setinggi-tingginya;
serta menyampaikan kami kepada puncak segala tujuan berupa kebaikan, baik
selama hidup maupun setelah kematian.”
15. يَا بَدِيعُ — (41 kali)
Yā Badī‘.
“Wahai Zat Yang Maha Pencipta dengan keindahan dan
keunikan yang tiada bandingannya.”
16. يس — (1 kali)
17. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ
أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، يَا رَبَّنَا وَإِلَهَنَا وَسَيِّدَنَا أَنْتَ
مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
(3 kali)
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Yā Rabbanā
wa Ilāhanā wa Sayyidanā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn.
“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar.
Wahai Tuhan kami, sesembahan kami, dan junjungan kami, Engkaulah Pelindung
kami. Maka tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”
18. حَصَّنْتُكُمْ
بِالْحَيِّ الْقَيُّومِ الَّذِي لَا يَمُوتُ أَبَدًا، وَدَفَعْتُ عَنْكُمُ
السُّوءَ بِأَلْفِ أَلْفِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ
الْعَظِيمِ
(3 kali)
Ḥaṣṣantukum bil-Ḥayyil-Qayyūmilladzī lā yamūtu abadan,
wa dafa‘tu ‘ankumus-sū’a bi-alfi alfi lā ḥaula wa lā quwwata illā
billāhil-‘Aliyyil-‘Aẓīm.
“Aku memohonkan perlindungan bagi kalian dengan Zat
Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus seluruh makhluk, yang tidak akan pernah mati.
Aku memohon agar keburukan dijauhkan dari kalian dengan seribu kali seribu
ungkapan, “Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan
Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”
19. الْحَمْدُ لِلَّهِ
الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا وَهَدَانَا عَلَى دِينِ الْإِسْلَامِ (3 kali)
Al-ḥamdu lillāhilladzī an‘ama ‘alainā wa hadānā ‘alā
dīnil-Islām.
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan
nikmat kepada kami dan memberikan petunjuk kepada kami menuju agama Islam.”
20. بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ
اللهُ، لَا يَسُوقُ الْخَيْرَ إِلَّا اللهُ، بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ، لَا
يَصْرِفُ السُّوءَ إِلَّا اللهُ
(1 kali)
Bismillāhi mā syā’allāh, lā yasūqul-khaira illallāh.
Bismillāhi mā syā’allāh, lā yaṣrifus-sū’a illallāh.
“Dengan nama Allah, apa yang dikehendaki Allah
terjadi. Tidak ada yang mendatangkan kebaikan selain Allah. Dengan nama Allah,
apa yang dikehendaki Allah terjadi. Tidak ada yang menolak keburukan selain
Allah.”
21. بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ
اللهُ، مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ، بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ، لَا
حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
(1 kali)
Bismillāhi mā syā’allāh, mā kāna min ni‘matin
faminallāh. Bismillāhi mā syā’allāh, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.
“Dengan nama Allah, apa yang dikehendaki Allah
terjadi. Setiap nikmat yang ada berasal dari Allah. Dengan nama Allah, apa yang
dikehendaki Allah terjadi. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan
pertolongan Allah.”
22. سَأَلْتُكَ يَا غَفَّارُ عَفْوًا وَتَوْبَةً ۞ وَبِالْقَهْرِ يَا قَهَّارُ خُذْ مَنْ تَحَيَّلَا
(3 kali)
Sa’altuka yā Ghaffāru ‘afwan wa taubatan. Wa bil-qahri
Yā Qahhāru, khudh man taḥayyala.
“Aku memohon kepada-Mu, wahai Zat Yang Maha Pengampun,
ampunan dan tobat. Dan dengan kekuasaan-Mu, wahai Zat Yang Maha Menundukkan, ambillah
orang yang menggunakan tipu daya.”
23. يَا جَبَّارُ، يَا
قَهَّارُ، يَا ذَا الْبَطْشِ الشَّدِيدِ، خُذْ حَقَّنَا وَحَقَّ الْمُسْلِمِينَ
مِمَّنْ ظَلَمَنَا وَالْمُسْلِمِينَ وَتَعَدَّى عَلَيْنَا وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ
(3 kali)
Yā Jabbāru, yā Qahhāru, yā Dzal-baṭsyisy-syadīd, khudh
ḥaqqanā wa ḥaqqal-muslimīna mimman ẓalamanā wal-muslimīna wa ta‘addā ‘alainā wa
‘alal-muslimīn.
“Wahai Zat Yang Mahaperkasa, wahai Zat Yang Maha
Menundukkan, wahai Zat Yang memiliki kekuatan sangat dahsyat. Ambillah hak kami
dan hak kaum Muslimin dari orang yang menzalimi kami dan kaum Muslimin serta
melampaui batas terhadap kami dan kaum Muslimin.”
Penutup
Istighosah NU merupakan salah satu
bentuk ikhtiar spiritual yang mengajak umat Islam untuk memperbanyak doa,
zikir, dan munajat kepada Allah Swt. Di tengah berbagai persoalan kehidupan,
istighosah mengingatkan kita bahwa usaha lahiriah perlu disertai doa,
kesabaran, dan tawakal.
Namun, istighosah hendaknya tidak
berhenti pada kegiatan membaca rangkaian doa semata. Nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya perlu diwujudkan melalui perbaikan diri, penguatan
persaudaraan, kepedulian sosial, serta kesungguhan dalam menjalankan tanggung
jawab. Doa dan ikhtiar harus berjalan beriringan, sementara hasil akhirnya
diserahkan kepada Allah Swt.
Semoga melalui istighosah, hati kita semakin dekat kepada Allah, keyakinan semakin kuat, dan langkah dalam menghadapi persoalan kehidupan senantiasa dibimbing oleh-Nya. Semoga Allah Swt. mengampuni dosa-dosa kita, mengabulkan doa-doa yang baik, memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan, serta melimpahkan rahmat dan keberkahan kepada kita semua. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
➡️ Melihat Susunan Istighosah Jam‘iyyah
Nahdlatul Ulama (NU) – Versi Arab Saja
Referensi
- Syaifullah
Ibnu Nawawi. “Pentingnya Mengetahui Sanad Istighotsah serta Dzikir.” NU
Online, 27 Mei 2018,
- A.
Khoirul Anam. “Istighotsah.” NU Online, 2 Februari 2007.
- MWC NU Tanjung Morawa. Buku Istighotsah: Istighotsah Doa Selamat dan Tawassul Disertai Shalawat Badar, Asghil, Nariyah, Tibbil Qulub serta Tahlil. Publikasi digital.
- MWC NU Tarumajaya. Panduan Istighotsah.
Penulisan teks Arab pada blog ini telah disesuaikan dengan kaidah yang benar. Perbedaan tampilan harakat dapat terjadi tergantung perangkat, font, dan browser yang digunakan.
