Larangan Memfitnah dan Berdusta dalam Al-Qur’an
Larangan Memfitnah dan Berdusta dalam Al-Qur’an
QS. Al-Baqarah (2) : 283; QS. Al-Ḥujurāt
(49) : 12
“Dan janganlah kamu menyembunyikan
kesaksian; barang siapa menyembunyikannya, maka sungguh hatinya berdosa. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah : 283)
Teks Arab Ayat QS. Al-Ḥujurāt : 12
يَـٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ
ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ
أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ
وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ ﴿١٢﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥujurāt : 12)
Penjelasan Singkat
Kedua ayat ini menegaskan larangan
keras terhadap kebohongan dan fitnah, baik melalui penyembunyian kesaksian,
prasangka buruk, maupun ghibah. Islam memerintahkan kejujuran dan menjaga lisan
karena fitnah dan dusta dapat merusak kehormatan, menimbulkan permusuhan, serta
menghancurkan kepercayaan dalam masyarakat. Menjaga kebenaran merupakan bagian
dari ketakwaan dan akhlak mulia.